KONSEP PENGEMBANGAN KONTRAKTOR SEKALA KECIL | Keterlibatan kontraktor sekala kecil dalam pengembangan infrastruktur perdesaan dan perkotaan, di antaranya program jaringan pengaman sosial (JPS), program pengembangan pembangunan desa tertinggal (P3DT) dan berbagai sector program loan (SPL).

Kontraktor yang terdaftar pada Pusat Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) saat ini berjumlah 109.964 kontraktor, sekitar 99.389 atau 90,66 % merupakan kontraktor sekala kecil yang terdiri atas 14.479 kontraktor golongan K1, 46.626 kontraktor golongan K2, dan 38.284 golongan K3. Umumnya kontraktor sekala kecil (KSK) mempunyai keterbatasan, seperti sumber daya, penguasaan teknologi dan kemampuan manajemen. Dengan keterbatasan ini, pemberdayaan KSK sangat diharapkan melalui program pemberdayaan dan peningkatan kemampuan sebagai upaya meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha, serta mendukung keterlibatan KSK dalam rangka pengembangan infrastruktur perdesaan dan perkotaan di Indonesia.

Program pemberdayaan Pengembangan kontraktor sekala kecil sebagai upaya untuk :

  1. meningkatkan kemampuan dan mendukung keterlibatan KSK dalam penyelenggaraan jasa konstruksi.
  2. meningkatkan hasil pelaksanaan KSK
  3. infrastruktur hasil pelaksanaan KSK dapat digunakan secara optimal, dan
  4. KSK mampu bersaing secara kompetitif dan berkembang.

Keterlibatan kontraktor sekala kecil dalam pengembangan infrastruktur perdesaan dan perkotaan, di antaranya program jaringan pengaman sosial (JPS), program pengembangan pembangunan desa tertinggal (P3DT) dan berbagai sector program loan (SPL). Pelaksanaannya di lapangan dilakukan dengan pola kerjasama operasional (KSO) dengan melibatkan lembaga kemasyarakatan, seperti LKMD, karang taruna, remaja mesjid, dan BP3, serta berbagai organisasi kemasyarakatan. Hasil pelaksanaan program ini di lapangan belum memberikan hasil maksimal sesuai dengan harapan (Tim Koordinasi Pengembangan Infrastruktur Perdesaan , 2002).

Pengertian Kontraktor Sekala kecil :

Kontraktor adalah pihak yang menyediakan jasa untuk menyelesaikan pekerjaan konstruksi sesuai dengan kesepakatan antara pemilik proyek (project owner) dengan pelaksana proyek (kontraktor). Edmonds mendefinisikan kontraktor adalah sebagai pihak yang melaksanakan pekerjaan fisik yang dituangkan dalam persetujuan kontrak.

Sementara berdasarkan Keppres 80/2003, kontraktor didefinisikan sebagai penyedia jasa pemborongan, yaitu pihak yang menyediakan layanan penanganan pekerjaan bangunan atau konstruksi atau wujud fisik lainnya yang perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan pengguna barang/jasa dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh pengguna barang/jasa Jadi kontraktor sekala kecil (KSK) dapat didefinisikan sebagai penyedia jasa konstruksi/pelaksana proyek yang memiliki keterbatasan dalam hal modal usaha (kemampuan finansial), sumber daya manusia, penguasaan teknologi, dan kemampuan manajemen. Beberapa definisi tentang kontraktor sekala kecil yang pada prinsipnya mempunyai arti yang sama, antara lain berikut ini.

Peter Bentall mendefinisikan kontraktor sekala kecil adalah kontraktor yang dapat menyediakan sumber daya dan mengerjakan proyek infrastruktur pada sekala yang terbatas, termasuk kontraktor lokal yang masih perlu dikembangkan untuk dapat memasuki pasar konstruksi. International Labour Organization (ILO) juga membagi kontraktor dalam golongan kecil, menengah, dan besar, serta sangat kecil/petty contractors (untuk di Indonesia disebut sebagai kelompok tenaga kerja yang dipimpin oleh mandor/kepala tukang).

Klasifikasi kontraktor menurut ILO membagi tipe kontraktor berdasarkan ukuran dan tipe pekerjaan yang dapat dilihat pada tabel.

Tipe KontraktorDeskripsi KontraktorTipe Pekerjaan
Kontraktor sangat kecil
(petty contractors)
Orang perorangan yang hanya terdiri dari tenaga kerja dengan keterampilan terbatas, tidak registrasi pada asosiasi dan lembaga konstruksiPemeliharaan rutin jalan, sub kontrak tenaga kerja, dan pekerjaan perbaikan
Kontraktor sekala kecil
(small-scale contractors)
Kontraktor yang registrasi pada asosiasi, dengan lingkup pekerjaan di tingkat lokal, menguasai beberapa peralatan, mempunyai modal rendah, menguasai beberapa keterampilan teknis, dan mempunyai kemampuan
manajerial terbatas
Pembangunan suatu konstruksi (perbaikan dan pembangunan bangunan sederhana), sub kontrak untuk keterampilan khusus, serta perbaikan infrastruktur pedesaan
Kontraktor menegah
(medium-sized contractors)
Kontraktor yang registrasi, menguasai beberapa peralatan, modal terbatas, keterampilan teknis dan manajerial sedangPekerjaan ppembangunan dan perbaikan utama seperti pekerjaan jalan, pekerjaan jembatan dan culver, serta bangunan gedung
Kontraktor sekala besar
(large-scale contractors)
Kontraktor yang registrasi, akses ke peralatan bagus, modal bagus, kererampilan kewirausahaan terbukti, keterampilan teknis dan manajerial bagusProgram infrastruktur sekala besar, proyek bangunan kompleks, pekerjaan sesuai dengan metode menggunakan peralatan (equipment intensive)

Sampai saat ini pengertian kontraktor sekala kecil di Indonesia masih samar. Ukuran besar kecilnya suatu kontraktor masih didasarkan kepada nilai kontrak pekerjaan publik yang diperbolehkan untuk ditangani olehkontraktor tersebut, sedangkan Undangundang mengenai Usaha Kecil dan Menengah hanya menyebutkanklasifikasi  pengusaha kecil dari nilai assetyang dimilikinya.

Keppres 80/2003 mengenaipengadaan barang/jasa pemerintahtidak begitu jelas mendefinisikankontraktor sekalakecil. Pada Keppres80/2003 kontraktor sekala kecil hanyadijelaskan sebagai bagian dari usahakecil,yaitu :

  1. usaha jasa konstruksimempunyai kekayaan bersih palingbanyak Rp 200.000.000,00, tidaktermasuk tanah dan bangunan tempatusaha, atau memiliki hasil penjualantahunan paling banyak Rp1.000.000.000,00.
  2. milik warga Negara Indonesia.
  3. berdiri sendiri, bukanmerupakan anak perusahaan ataucabang perusahaan yang dimiliki,dikuasai, atau berafiliasi (bentuk kerjasama) baik langsung maupun tidaklangsung dengan Usaha Menengahatau Usaha Besar.

Berbeda dengan Keppres 18/2000, Keppres 18/2000 membedakan besar-kecilnya sekala kontraktor berdasarkan nilai pekerjaan yang dapat dikerjakannya. Nilai pekerjaan yang dapat dikerjakan kontraktor sekala kecil adalah Rp 1.000.000.000,00. Keppres 18/2000 juga membagi kontraktor sekala kecil menjadi tiga golongan, yaitu

  1. kontraktor golongan K-3 dengan nilai pekerjaan sampai dengan Rp 100 juta,
  2. kontraktor golongan K-2 dengan nilai pekerjaan antara Rp 100 juta-Rp 400 juta, serta
  3. kontraktor golongan K-1 dengan nilai pekerjaan antara Rp 400 juta-Rp 1 milyar. Penggolongan kontraktor berdasarkan Keppres 18/2000 tersebut selama ini dianggap membatasi kontraktor, terutama kontraktor sekala kecil sehingga tidak dapat bersaing dengan kontraktor kelas lainnya.

Berbagai permasalahan yang sering dihadapi oleh kontraktor sekala kecil, seperti :

  1. kebijakan pemerintah
  2. regulasi, dan
  3. kemampuan finansial dan manajemen.

Konsep pengembangan Kontraktor Sekala Kecil (KSK) di Indonesia

Kontraktor sekala kecil dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu :

  1. KSK yang memenuhi syarat/kualifikasi
  2. KSK yang tidak memenuhi syarat/kualifikasi, dan
  3. Kontraktor yang tidak registrasi (petty contractors)

KSK umumnya memiliki keterbatasan, seperti kemampuan modal kerja (finansial), penguasaan teknologi, dan kemampuan manajemen.

Untuk KSK yang tidak memenuhi syarat/kualifikasi dibutuhkan program pemberdayaan, seperti memberikan bantuan teknis, pelatihan dan kemudahan akses terhadap institusi keuangan untuk memberikan bantuan permodalan. Program pemberdayaan sebagai upaya membuat KSK tersebut dapat memenuhi kualifikasi dan untuk KSK yang memenuhi syarat/kualifikasi dibuatkan pencadangan paket pekerjaan, penyederhanaan prosedur dan administrasi untuk mendukung keterlibatan KSK, serta diberikan program peningkatan kompetensi, seperti pelatihan prosedur pengadaan dan pemahaman ruang lingkup proyek sehingga KSK dapat bersaing secara luas/kompetitif dan berkembang.

Sementara untuk kontraktor yang tidak teregistrasi (petty contractors) diberikan program pemberdayaan, pencadangan paket pekerjaan, dan diupayakan dapat teregistrasi pada lembaga jasa konstruksi. Kerangka dasar
pengembangan KSK dapat dilihat pada gambar.

pengembangan Kontraktor sekala kecil yang memenuhi kualifikasi/syarat memiliki beberapa kriteria. Kriteria KSK yang memenuhi kualifikasi dapat digambarkan sebagai berikut :

  • Modal atau kekayaan bersih 5 juta rupiah sampai dengan 400 ratus juta rupiah dan mampu melaksanakan
    pekerjaan sampai satu milyar rupiah.
  • Perusahaan mempunyai tenaga teknik satu orang minimal lulusan STM dan perusahaan telah melaksanakan proyek 3 (tiga) kali dalam 2 (dua) tahun.
  • Perusahaan telah menyelesaikan perpajakan.

Baca juga : Software Akuntansi Kontraktor

Untuk mengingkatkan bisnis kontraktor Anda pastinya Anda membutuhkan laporan yang lengkap dan mudah untuk digunakan oleh user Anda.

Pencadangan paket pekerjaan untuk mendukung keterlibatan KSK dapat digunakan kriteria yang spesifik, seperti kriteria yang dapat digunakan dalam pencadangan paket pekerjaan yaitu :

  • prasarana yang sangat dibutuhkan untuk peningkatan taraf perekonomian masyarakat pedesaan
  • paket dapat mengimplementasikan program teknologi berbasis padat karya (labour based) yang dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat setempat sebagai upaya menciptakan lapangan pekerjaan, dan
  • pencadangan paket pekerjaan disesuaikan dengan tingkat kemampuan KSK sebagai upaya mendukung keterlibatannya.
  • mempertimbangkan kemampuan dana (APBD/APBN), serta
  • kebijakan dari pemerintah setempat/lembaga donor (loan/hibah).

Beberapa hal yang mesti dihindari dalam penyusunan paket pekerjaan adalah berikut ini :

  • Memecah pengadaan barang/jasa menjadi beberapa paket dengan maksud untuk menghindari pelelangan.
  • Menyatukan atau memusatkan beberapa kegiatan yang tersebar di beberapa daerah yang menurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan di daerah masing-masing.

Untuk itu, kontraktor membutuhkan kemampuan manajemen bisnis berupa konsep, seperti :

  1. strategi memperoleh proyek dalam hal melakukan estimasi dan penawaran.
  2. sistem pelaksanaan proyek untuk mendapatkan keuntungan/pengaturan keuangan proyek
  3. pengelolaan bisnis perusahaan.

Kontraktor harus dapat merencanakan bisnis dengan baik agar dapat memperoleh jaminan profit atau keuntungan pada akhir proyek. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu pertimbangan nilai waktu uang yang harus dibelanjakan dalam menganalisis bisnis dan keuangan. Banyak kontraktor, terutama kontraktor sekala kecil yang kurang memahami hal ini sehingga tidak dapat menjaga keberlangsungan bisnis. Untuk itu kontraktor harus mengembangkan kemampuannya agar mampu mengatur bisnis dengan baik, terutama dalam manajemen keuangan.

Pembiayaan bisnis atau sumber dana untuk suatu perusahaan kontraktor pada dasarnya terdiri dari:

  • Modal milik sendiri (equity capital)
  • Modal pinjaman (borrowed capital)
  • Keuntungan yang tertahan (retained profits)

Agar kontraktor dapat menjalankan bisnisnya secara berkelanjutan setidaknya kontraktor harus dapat menghitung dan memperkirakan sumber dana untuk perusahaan kontraktor tersebut.

Agar kontraktor dapat menjalankan bisnisnya secara berkelanjutan setidaknya kontraktor harus dapat menghitung dan memperkirakan sumber dana untuk perusahaan kontraktor tersebut. dibutuhkan pada waktu tertentu pada masa yang akan datang, serta mencatat berapa banyak uang tunai yang dibelanjakan. Peramalan tersebut bermanfaat untuk mengetahui berapa banyak uang tunai yang benar-benar dimiliki atau rencana kebutuhan uang tunai pada suatu waktu. Suatu bisnis dapat berjalan tanpa keuntungan pada suatu periode waktu, tetapi tidak dapat
bertahan jika tidak ada uang tunai. Di dalam bisnis konstruksi cash flow kebanyakan tergantung pada kemajuan proyek-proyek secara individu. Hal ini akan menyulitkan peramalan, khususnya untuk perusahaan kecil yang hanya memperoleh proyek satu atau dua dalam waktu yang bersamaan.

Beberapa definisi dari konsep cash flow yang harus dipahami kontraktor antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Uang masuk (cash flowing in): pada umumnya dalam kontrak sekala kecil, kontraktor dibayar bulanan sesuai
    dengan pekerjaan yang dilaksanakan. Jika pemilik proyek membayar dengan segera, pembayaran pertama kontraktor dibayar dalam 6 minggu setelahmemulai kontrak, dan setiap bulan selanjutnya secara periodik. Pada saat itu kontraktor mungkin telah melakukan pinjaman atau kelebihan kredit (overdraft) untuk mendapatkan uang tunai yang dibutuhkan sesuai peramalan cash flow.
  2. Uang keluar (cash flowing out): uang tunai yang harus disediakan dan akan dibelanjakan atau dikeluarkan
    untuk melaksanakan suatu kontrak. Pada awal pekerjaan, kontraktor akan mengeluarkan uang untuk menata lokasi, memperoleh peralatan, dan pembelian material. Setelah pekerjaan dimulai, kontraktor akan mengeluarkan uang untuk seluruh item pekerjaan seperti untuk membayar upah tenaga kerja, material, suku bunga, pembayaran kembali pinjaman, dan pajak.
  3. Analisis arus uang tunai (cash flow analysis): suatu metode untuk mendapatkan informasi tentang cara mendapatkan uang dan bagaimana menggunakannya. Analisis ini akan membantu penilaian kinerja pekerjaan yang lalu, menunjukkan mengapa cash flow meningkat atau menurun, peramalan likuiditas masa depan,
    dan mengevaluasi kemampuan dalam membayar hutang pada waktunya.
  4. Peramalan arus uang tunai (cash flow forecast): cash flow forecast atau penyiapan anggaran digunakan untuk perencanaan uang tunai dan mengontrol arus uang kas yang masuk dan keluar pada periode waktu tertentu sesuai dengan yang telah direncanakan. Anggaran uang tunai ini akan membantu kontraktor menjaga keseimbangan antara uang tunai keluar dan uang tunai masuk, yang dapat menghindarkan kontraktor dari permasalahan kekosongan atau kekurangan uang tunai. Anggaran uang tunai akan menunjukkan berapa banyak uang tunai yang ada pada saat pekerjaan dimulai (beginning cash), uang tunai yang diterima, uang tunai yang dibelanjakan, serta uang tunai pada akhir proyek.

Untuk pengembangan kontraktor sekala kecil yang perlu ditingkatkan terutama berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan untuk proses penawaran, manajemen lapangan dan manajemen bisnis. Pada tahap proses penawaran, staf kontraktor perlu mengetahui informasi yang dibutuhkan dan bagaimana mendapatkannya dalam persiapan penawaran tersebut seperti pemeriksaan lokasi, gambar-gambar kontrak, spesifikasi dan kondisi kontrak, pembuatan volume pekerjaan dan perkiraan biaya proyek. Pada bidang manajemen lapangan, staf kontraktor.